Menulis cerita ini seperti menata
ulang bata-bata bahagia yang sebenarnya sudah nampak rapi nan kokoh, namun
mungkin kudu dihambur dan disusun lagi biar gesekan bahagianya terasa kembali.
Yah kisah ini memang terjadi di
sebahagian penggalan waktu yang teramat singkat, namun tak sesingkat itu dapat
terlupa dan terus teringat.
14 September 2015, tak seperti
hari Senin biasanya dalam kayuhan waktu yang selama ini ku jalani, sadarku
terpaksa harus kuhadirkan lebih awal dihari itu, bagimana tidak sudah banyak
jam yang ku habiskan untuk menyiapkan hari itu, tentu kesia-siaan tak boleh
ikut andil didalamnya. Dengan bekal tidur hanya beberapa jam kulalui ritual
pagi ku untuk berserah dan meminta kemudahan untuk hari itu, yah aku masih
ingat hal yang selalu diajarkan orang-orang berilmu, bahwa sebaik-baiknya
rencana kita, Allah Jalla Jalaluhu lah yang lebih menentukan segalanya.
Kelas Inspirasi, itulah the big plan yang akan ku jalani hari itu
bersama 9 sahabat yang baru seminggu ku kenal namun keasingan diawal pertemuan
kami seakan minggat oleh kekompakkan tujuan yang kita usung bersama. Bergandeng
ria dengan kesibukan masing-masing, kita sempatkan menumpahkan ide yang waras
sampe yang nyeleneh dalam pertemuan nyata hinggapun maya (buka ghaib yah).
Segala konsep acara hingga property acara semua sudah dipersiapkan sedahsyat
mungkin untuk hari itu, Hari dimana kita kan menginspirasi banyak pasang jiwa
berdasi merah yang masih bingung dalam mencapai cita-cita atau hanya sekedar
menentukan apa cita-citanya.
Suasana pagi itu sudah
memerintahku untuk segera berangkat ke sekolah SDN 015 Samarinda Kota, tempat
aku akan di eksekusi, yah kata itu
lah yang selalu terbayang dalam benakku, karna jujur saja walau basic sarjana yang aku peroleh adalah
pendidikan, tapi memang aku sangat tidak bisa menghandle makhluk-makhluk berseragam putih merah yang liar, suka
nangis, dan mengacuhkan teguran kita itu. Inilah hal-hal buruk yang seakan
mencakar-cakar otakku selama perjalanan, namun terus saja ku optimiskan tekat
dan menepis itu semua, hingga tibalah aku di alam itu, disana mereka telah
sibuk lari kesana kemari dengan wajah tanpa beban yang tak pernah luntur menggantung
ditawa mereka.
Allhamdulillah segalanya memang
telah kita fixasi sehari sebelumnya,
semua telah di cek. Pagi itu juga bukan
hanya makhluk berdasi merah itu yang hangat menyambut namun juga Kepal Sekolah,
Staf Guru dan TU turut hangat menyambut kita sembari mengumpulkan anak-anak di
lapangan untuk melakukan Upacara Bendera (ini niih yang udah hampir 5 tahun
lebih gak ku ikutin dan parahnya lagi kala itu aku bertugas sebagai “PEMBINA UPACARA” apa kada pusing pala awak,
semalaman ngapalin teks amanat heheheh).
Tak begitu lama upacara benderapun selesai walau yang lain gak tau bahwa
“amanat upacara” yang sudah dihapalin semalaman sebenarnya “blank”
dari ingatan tapi syukur jalan aja terus.
Acara inti kami buka dengan ice breaking dilapangan yang sangat
menyulut semangat dan kegembiraan para makhluk kecil berdasi merah, begitu pula dengan aku. Disaat ini lah segala
pikiran buruk selama perjalanan tadi seketika pudar,, pudar,,, dan hilang
begitu saja tanpa disadari. Ku terhanyut dalam lautan kegembiraan dan rasa tak
ingin berhenti untuk menyelam dan menikmatinya. Hanya menghabiskan beberapa
menit unutk acara pembuakaan itu seraya membawa bulir-bulir semangat yang
dibagi dilapangan tadi ku bawalah senjata-senjata kimiaku ke tiap-tiap kelas
mereka, maklum profesi lainku selain mengajar mata pelajaran kimia, juga
sebagai Laboran di Laboratorium Kimia FKIP Unmul. Berbekal berbagai macam alat
dan bahan kimia ku lakukanlah tugas besarku hari itu di kelas mereka,
Menginspirasi , yah dengan praktikum-praktikum sederhana, ku ceritakan
bagaimana keseruan pekerjaan yang 3 tahun lebih ku geluti. Jangan Tanya apakah
mereka mengerti dengan pekerjaanku, mereka malah menebak bahwa pekerjaanku
adalah dokter (karna kebetulan aku menggunkan Jas Laboratorium putih yang
sebenarnya gak sama dengan Jas Dokter), ada yang menganggap saya adalah tukang
sulap (karna reaksi-reaksi kimia yang masih mereka anggap adalah sesuatu yang magic, padahal mah biasa aja hehehee),
bahkan ada yang gak peduli tentang apa pekerjaanku, dia hanya asik dengan
ketakjubannya melihat praktikum yang ku pertontonkan. Setelah semua kelas ku
hinggapi, sampaila kita di akhir pertemuan hari itu, dimana kita menutupnya
dengan penggantungan cita-cita di sebuah pohon harapan yang ku buat bersama
sahabat-sahabat yang “bungas” tersebut. Sembari menggantung, ku baca beberapa
keinginan yang mereka tulis, ada yang mau jadi atlet, pemadam, polisi, bidan
dan banyak lagi. Tak lupa juga kita mengabadikan moment-moment penutupan denga
foto bersama beserta senyum tawa yang tiada habisnya ikut tergambar dalam tiap jepretan.
Mungkin sebahagian orang
menganggap itu adalah hal yang biasa dan sederhana, namun hal-hal sederhana itu
lah yang seakan memompa hormon Edorfin, iia mengeluarkan rasa bahagia yang
bukan hanya sehari itu aku rasakan namun juga ditiap-tiap kisah-kisah itu aku
hadirkan dalam ingatan. Sebenarnya hari itu adalah tugasku untuk membagi apa
yang ku punya, namun seperti aku memberi satu kebagiaan kemereka dan segera dibalas
oleh mereka dengan puluhan bahkan ratusan kebahagiaan. Mereka adalah
siswa-siswi terbaik bangsa, siswa-siswi SDN 015 Samarinda Kota.
Senin diminggu ketiga September
itulah hari yang tak akan pernah terlupakan.
Special thankz untuk sahabat-sahabat
ku yang tergabung dalam Kelompok 2 Bungas, Serta Ibu Kepala Sekolah, Bapak Ibu
Guru dan Staf TU, kalian tak akan hilang dalam ingatan.
Dan untuk anak-anak ku
siswa-siswa SDN 015 Samarinda, jangn pernah hanya bermimpi, tapi langkahkan
kakimu untuk mengejar mimpi itu, kuatkan tanganmu untuk menggapainya, serta
bulatkan tekatnya untuk tak kenal lelah untuk meraihnya. Kalian makhluk-makhluk
kecil berdasi merah yang sangat menginspirasiku.
Tengok keseruan saya bersama mereka disini
Tengok keseruan saya bersama mereka disini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar