Swimming Sperm

Sabtu, 10 Oktober 2015

Makhluk Kecil Berdasi Merah


Menulis cerita ini seperti menata ulang bata-bata bahagia yang sebenarnya sudah nampak rapi nan kokoh, namun mungkin kudu dihambur dan disusun lagi biar gesekan bahagianya terasa kembali.
Yah kisah ini memang terjadi di sebahagian penggalan waktu yang teramat singkat, namun tak sesingkat itu dapat terlupa dan terus teringat.
14 September 2015, tak seperti hari Senin biasanya dalam kayuhan waktu yang selama ini ku jalani, sadarku terpaksa harus kuhadirkan lebih awal dihari itu, bagimana tidak sudah banyak jam yang ku habiskan untuk menyiapkan hari itu, tentu kesia-siaan tak boleh ikut andil didalamnya. Dengan bekal tidur hanya beberapa jam kulalui ritual pagi ku untuk berserah dan meminta kemudahan untuk hari itu, yah aku masih ingat hal yang selalu diajarkan orang-orang berilmu, bahwa sebaik-baiknya rencana kita, Allah Jalla Jalaluhu lah yang lebih menentukan segalanya.
Kelas Inspirasi, itulah the big plan yang akan ku jalani hari itu bersama 9 sahabat yang baru seminggu ku kenal namun keasingan diawal pertemuan kami seakan minggat oleh kekompakkan tujuan yang kita usung bersama. Bergandeng ria dengan kesibukan masing-masing, kita sempatkan menumpahkan ide yang waras sampe yang nyeleneh dalam pertemuan nyata hinggapun maya (buka ghaib yah). Segala konsep acara hingga property acara semua sudah dipersiapkan sedahsyat mungkin untuk hari itu, Hari dimana kita kan menginspirasi banyak pasang jiwa berdasi merah yang masih bingung dalam mencapai cita-cita atau hanya sekedar menentukan apa cita-citanya.
Suasana pagi itu sudah memerintahku untuk segera berangkat ke sekolah SDN 015 Samarinda Kota, tempat aku akan di eksekusi, yah kata itu lah yang selalu terbayang dalam benakku, karna jujur saja walau basic sarjana yang aku peroleh adalah pendidikan, tapi memang aku sangat tidak bisa menghandle makhluk-makhluk berseragam putih merah yang liar, suka nangis, dan mengacuhkan teguran kita itu. Inilah hal-hal buruk yang seakan mencakar-cakar otakku selama perjalanan, namun terus saja ku optimiskan tekat dan menepis itu semua, hingga tibalah aku di alam itu, disana mereka telah sibuk lari kesana kemari dengan wajah tanpa beban yang tak pernah luntur menggantung ditawa mereka.
Allhamdulillah segalanya memang telah kita fixasi sehari sebelumnya, semua telah di cek.  Pagi itu juga bukan hanya makhluk berdasi merah itu yang hangat menyambut namun juga Kepal Sekolah, Staf Guru dan TU turut hangat menyambut kita sembari mengumpulkan anak-anak di lapangan untuk melakukan Upacara Bendera (ini niih yang udah hampir 5 tahun lebih gak ku ikutin dan parahnya lagi kala itu aku bertugas sebagai  “PEMBINA UPACARA” apa kada pusing pala awak, semalaman ngapalin teks amanat  heheheh). Tak begitu lama upacara benderapun selesai walau yang lain gak tau bahwa “amanat upacara” yang sudah dihapalin semalaman sebenarnya “blank”  dari ingatan tapi syukur jalan aja terus.
Acara inti kami buka dengan ice breaking dilapangan yang sangat menyulut semangat dan kegembiraan para makhluk kecil berdasi merah,  begitu pula dengan aku. Disaat ini lah segala pikiran buruk selama perjalanan tadi seketika pudar,, pudar,,, dan hilang begitu saja tanpa disadari. Ku terhanyut dalam lautan kegembiraan dan rasa tak ingin berhenti untuk menyelam dan menikmatinya. Hanya menghabiskan beberapa menit unutk acara pembuakaan itu seraya membawa bulir-bulir semangat yang dibagi dilapangan tadi ku bawalah senjata-senjata kimiaku ke tiap-tiap kelas mereka, maklum profesi lainku selain mengajar mata pelajaran kimia, juga sebagai Laboran di Laboratorium Kimia FKIP Unmul. Berbekal berbagai macam alat dan bahan kimia ku lakukanlah tugas besarku hari itu di kelas mereka, Menginspirasi , yah dengan praktikum-praktikum sederhana, ku ceritakan bagaimana keseruan pekerjaan yang 3 tahun lebih ku geluti. Jangan Tanya apakah mereka mengerti dengan pekerjaanku, mereka malah menebak bahwa pekerjaanku adalah dokter (karna kebetulan aku menggunkan Jas Laboratorium putih yang sebenarnya gak sama dengan Jas Dokter), ada yang menganggap saya adalah tukang sulap (karna reaksi-reaksi kimia yang masih mereka anggap adalah sesuatu yang magic, padahal mah biasa aja hehehee), bahkan ada yang gak peduli tentang apa pekerjaanku, dia hanya asik dengan ketakjubannya melihat praktikum yang ku pertontonkan. Setelah semua kelas ku hinggapi, sampaila kita di akhir pertemuan hari itu, dimana kita menutupnya dengan penggantungan cita-cita di sebuah pohon harapan yang ku buat bersama sahabat-sahabat yang “bungas” tersebut. Sembari menggantung, ku baca beberapa keinginan yang mereka tulis, ada yang mau jadi atlet, pemadam, polisi, bidan dan banyak lagi. Tak lupa juga kita mengabadikan moment-moment penutupan denga foto bersama beserta senyum tawa yang tiada habisnya ikut tergambar dalam tiap jepretan.
Mungkin sebahagian orang menganggap itu adalah hal yang biasa dan sederhana, namun hal-hal sederhana itu lah yang seakan memompa hormon Edorfin, iia mengeluarkan rasa bahagia yang bukan hanya sehari itu aku rasakan namun juga ditiap-tiap kisah-kisah itu aku hadirkan dalam ingatan. Sebenarnya hari itu adalah tugasku untuk membagi apa yang ku punya, namun seperti aku memberi satu kebagiaan kemereka dan segera dibalas oleh mereka dengan puluhan bahkan ratusan kebahagiaan. Mereka adalah siswa-siswi terbaik bangsa, siswa-siswi SDN 015 Samarinda Kota.

Senin diminggu ketiga September itulah hari yang tak akan pernah terlupakan.
Special thankz untuk sahabat-sahabat ku yang tergabung dalam Kelompok 2 Bungas, Serta Ibu Kepala Sekolah, Bapak Ibu Guru dan Staf TU, kalian tak akan hilang dalam ingatan.

Dan untuk anak-anak ku siswa-siswa SDN 015 Samarinda, jangn pernah hanya bermimpi, tapi langkahkan kakimu untuk mengejar mimpi itu, kuatkan tanganmu untuk menggapainya, serta bulatkan tekatnya untuk tak kenal lelah untuk meraihnya. Kalian makhluk-makhluk kecil berdasi merah yang sangat menginspirasiku.

Tengok keseruan saya bersama mereka disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar